Pulse Width Modulation (PWM) pada PLC: Pengertian, Cara Kerja, dan Aplikasinya

PWM pada PLC: Pengertian, Cara Kerja dan Aplikasi

Pulse Width Modulation (PWM) merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan pada PLC untuk menghasilkan sinyal pulsa digital dengan mengatur frekuensi dan duty cycle. PWM banyak digunakan pada aplikasi kontrol yang membutuhkan pengaturan berbasis pulsa, misalnya pengaturan kecepatan motor DC, pengendalian perangkat tertentu, pengaturan brightness LED, dan aplikasi lainnya.

Pada PLC tertentu, fungsi PWM tersedia melalui high-speed output sehingga pembentukan pulsa tidak hanya bergantung pada scan cycle program PLC. Sebagai contoh, dokumentasi Siemens menjelaskan bahwa beberapa CPU S7-200 SMART mendukung high-speed pulse output untuk fungsi PTO maupun PWM.

Apa Itu PWM pada PLC?

PWM atau Pulse Width Modulation adalah teknik menghasilkan sinyal digital ON/OFF secara berulang dengan lebar pulsa ON yang dapat diatur.

Sinyal PWM memiliki dua parameter utama:

  • Frequency atau frekuensi
  • Duty cycle atau persentase waktu ON dalam satu periode

Secara sederhana:

Duty Cycle 25%

     ┌───┐          ┌───┐
─────┘   └──────────┘   └─────


Duty Cycle 50%

     ┌───────┐      ┌───────┐
─────┘       └──────┘       └──


Duty Cycle 75%

     ┌───────────┐  ┌───────────┐
─────┘           └──┘           └──

Semakin besar duty cycle, semakin besar proporsi waktu output berada pada kondisi ON.

Rumus duty cycle:Duty Cycle=TONTPeriod×100%Duty\ Cycle=\frac{T_{ON}}{T_{Period}}\times100\%

Sebagai contoh, jika satu periode PWM adalah 10 ms dan waktu ON adalah 5 ms:Duty Cycle=510×100%=50%Duty\ Cycle=\frac{5}{10}\times100\%=50\%

Dokumentasi Siemens juga mendefinisikan duty factor sebagai hubungan antara durasi pulsa dan periode PWM.

Frequency dan Duty Cycle pada PWM

1. Frequency

Frequency menunjukkan berapa banyak siklus PWM yang terjadi dalam satu detik.

Hubungan antara frequency dan periode adalah:T=1fT=\frac{1}{f}

Contohnya:

Frequency = 1 kHz

maka:T=11000=1msT=\frac{1}{1000}=1ms

Artinya satu siklus PWM berlangsung selama 1 ms.

2. Duty Cycle

Duty cycle menentukan berapa persen dari satu periode output berada dalam kondisi ON.

Misalnya:

Duty CycleON TimeOFF Time
10%0,1 ms0,9 ms
25%0,25 ms0,75 ms
50%0,5 ms0,5 ms
75%0,75 ms0,25 ms
90%0,9 ms0,1 ms

untuk frequency 1 kHz.

Bagaimana PWM Bekerja pada PLC?

Secara umum, prinsipnya dapat digambarkan seperti berikut:

┌────────────────┐
│  PLC Program   │
└───────┬────────┘
        │
        ▼
┌────────────────────┐
│ PWM / High-Speed   │
│ Output Function    │
└────────┬───────────┘
         │
    ┌────┴─────┐
    │          │
Frequency   Duty Cycle
    │          │
    └────┬─────┘
         │
         ▼
┌────────────────────┐
│ Digital PWM Output │
└────────┬───────────┘
         │
         ▼
   Device / Driver

PLC menentukan parameter PWM kemudian high-speed output menghasilkan pulsa sesuai konfigurasi.

Pada PLC tertentu, fungsi PWM memang dirancang sebagai fungsi hardware berkecepatan tinggi. Misalnya, dokumentasi Rockwell untuk MicroLogix menjelaskan bahwa fungsi PWM dan PTO menggunakan high-speed outputs, sedangkan output relay tidak cocok untuk operasi berkecepatan sangat tinggi.

PWM dan Scan Cycle PLC

Ini merupakan salah satu konsep penting dalam memahami PWM pada PLC.

PLC pada umumnya bekerja dengan siklus:

Read Input
     ↓
Execute Program
     ↓
Update Output
     ↓
Repeat

Jika kita mencoba menghasilkan pulsa berfrekuensi tinggi hanya menggunakan logika ON/OFF biasa dalam program, terdapat keterbatasan akibat scan time.

Karena itu, untuk aplikasi PWM berkecepatan tinggi, PLC biasanya menggunakan:

  • High-Speed Output
  • Hardware PWM
  • Pulse Output Function
  • Dedicated Motion/Pulse Module

Dengan cara tersebut, pembentukan pulsa dapat dilakukan oleh hardware tertentu sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada eksekusi program utama PLC.

Contoh PWM pada Motor DC

Salah satu contoh sederhana adalah pengaturan kecepatan motor DC.

PLC
 │
 │ PWM
 ▼
Motor Driver
 │
 ▼
DC Motor

Misalnya digunakan sumber 24 VDC.

Secara ideal, semakin besar duty cycle, semakin besar tegangan rata-rata yang diterima oleh beban:Vavg≈Duty Cycle×VDCV_{avg}\approx Duty\ Cycle\times V_{DC}

Maka:

Duty CycleTegangan rata-rata ideal
25%6 V
50%12 V
75%18 V
100%24 V

Namun, perlu diperhatikan bahwa output PWM tetap merupakan sinyal digital ON/OFF, bukan output analog 6 V, 12 V, atau 18 V secara langsung.

Nilai rata-rata tersebut merupakan efek dari pulsa PWM terhadap beban atau driver.

Pada aplikasi motor, karakteristik motor dan driver juga memengaruhi hubungan antara duty cycle dan kecepatan aktual.

PWM Bukan Berarti Output Analog

Hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman.

Analog Output

PLC menghasilkan:

0–10 V

atau:

4–20 mA

Nilainya dapat berubah secara kontinu.

Contohnya:

PLC ─── 4–20 mA ───► Control Valve

PWM Output

PLC menghasilkan:

ON ── OFF ── ON ── OFF ── ON

dengan duty cycle tertentu.

Jadi:

Analog output → nilai tegangan/arus

PWM → pulsa digital dengan duty cycle tertentu

PWM dapat memberikan efek yang menyerupai pengaturan analog pada beberapa aplikasi, tetapi secara fisik sinyalnya tetap berupa pulsa digital. Siemens juga menjelaskan bahwa PWM dapat digunakan sebagai digital output yang dalam banyak aplikasi memberikan efek yang analog terhadap output.

Perbedaan PWM dan Pulse Train Output (PTO)

PWM dan PTO sama-sama menghasilkan pulsa, tetapi tujuan penggunaannya berbeda.

PWMPTO
Fokus pada duty cycleFokus pada jumlah dan frekuensi pulsa
Lebar pulsa dapat diaturUmumnya digunakan sebagai pulse train
Cocok untuk pengaturan berbasis duty cycleBanyak digunakan untuk motion control
Dapat digunakan pada aplikasi power/control tertentuBanyak digunakan untuk stepper/positioning
Parameter penting: duty cycle dan frequencyParameter penting: pulse count dan frequency

Pada dokumentasi Siemens S7-200 SMART, PTO dijelaskan sebagai output pulsa dengan 50% duty cycle untuk jumlah pulsa dan frekuensi tertentu, sedangkan PWM menggunakan periode tetap dengan duty cycle yang dapat diubah.

Contoh sederhana:

PTO

PLC ──────► Pulse Train ──────► Stepper Driver
                    │
                    └── jumlah pulsa menentukan posisi


PWM

PLC ──────► PWM ──────► Driver / Device
                 │
                 └── duty cycle menentukan karakteristik kontrol

Aplikasi PWM pada Sistem Otomasi Industri

PWM dapat ditemukan pada berbagai aplikasi, tergantung kemampuan PLC dan perangkat yang dikendalikan.

1. Pengaturan Motor DC

PWM dapat digunakan sebagai sinyal perintah ke motor driver untuk mengatur kecepatan motor.

2. Solenoid

Pada perangkat tertentu, PWM dapat digunakan untuk mengatur energi atau arus rata-rata pada coil.

3. LED atau Lampu

Duty cycle dapat digunakan untuk mengatur brightness.

4. Heater

PWM atau metode time-proportioning dapat digunakan pada aplikasi pemanasan tertentu.

5. Perangkat atau Driver Tertentu

Beberapa perangkat industri menyediakan input berbasis PWM sebagai salah satu metode command atau control.

Namun, selalu periksa manual perangkat. Tidak semua motor, valve, servo drive, atau actuator dapat dikontrol langsung menggunakan PWM.

Contoh Perhitungan PWM

Misalnya PLC menghasilkan:

Frequency = 500 Hz

dan:

Duty Cycle = 60%

Pertama kita hitung periode:T=1500T=\frac{1}{500}T=0,002s=2msT=0,002s=2ms

Kemudian waktu ON:TON=60%×2msT_{ON}=60\%\times2msTON=1,2msT_{ON}=1,2ms

Waktu OFF:TOFF=2ms−1,2msT_{OFF}=2ms-1,2msTOFF=0,8msT_{OFF}=0,8ms

Maka bentuk sinyalnya:

       1,2 ms ON
     ┌───────────┐
─────┘           └────────┐
                           │
                           └────────
       <------ 2 ms ------->

Pulsa tersebut berulang sebanyak 500 siklus per detik.

Parameter Penting PWM pada PLC

Sebelum menggunakan PWM, beberapa parameter berikut perlu diperhatikan:

ParameterKeterangan
FrequencyKecepatan pengulangan pulsa
PeriodWaktu satu siklus
Duty CyclePersentase waktu ON
Pulse WidthDurasi pulsa ON
ON TimeWaktu output HIGH
OFF TimeWaktu output LOW
ResolutionKetelitian pengaturan duty cycle
Maximum FrequencyFrekuensi maksimum output
Minimum Pulse WidthLebar pulsa minimum
Output CurrentKemampuan arus output
Output VoltageTegangan output
Load TypeJenis beban yang dikendalikan

Spesifikasi ini berbeda-beda pada setiap PLC. Sebagai contoh, salah satu modul high-speed Siemens memiliki parameter cycle duration, frequency, duty factor, dan minimum pulse duration yang ditentukan oleh kemampuan hardware modul tersebut.

Karena itu, jangan menentukan frequency PWM hanya berdasarkan kebutuhan program. Periksa juga spesifikasi CPU, high-speed output, transistor output, wiring, dan perangkat yang menerima sinyal.

Contoh Implementasi pada PLC Siemens

Pada keluarga PLC Siemens tertentu, PWM dapat dikonfigurasi melalui fungsi pulse output/high-speed output.

Dokumentasi Siemens S7-200 menjelaskan bahwa output tertentu dapat dikonfigurasi sebagai PWM dengan menentukan time base, cycle time, dan pulse width.

Contoh implementasi di lapangan secara konseptual:

Set Frequency
      │
      ▼
Set Duty Cycle
      │
      ▼
Enable PWM
      │
      ▼
High-Speed Output
      │
      ▼
PWM Device / Driver

Konfigurasi aktual seperti nomor output, alamat, instruction, time base, range duty cycle, dan frekuensi maksimum harus mengikuti manual PLC yang digunakan.

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menggunakan PWM

Ada beberapa hal penting agar PWM bekerja dengan baik.

1. Gunakan output yang mendukung PWM

Tidak semua digital output PLC dapat digunakan untuk PWM berkecepatan tinggi.

2. Perhatikan jenis output

Periksa apakah output PLC berupa:

  • transistor sourcing,
  • transistor sinking,
  • push-pull,
  • atau relay.

Relay pada umumnya tidak cocok untuk PWM berfrekuensi tinggi.

3. Perhatikan maximum frequency

Setiap hardware mempunyai batas frekuensi.

4. Perhatikan minimum pulse width

Pada frekuensi tertentu, duty cycle yang terlalu kecil dapat menghasilkan pulsa yang lebih pendek daripada kemampuan hardware.

5. Perhatikan beban

Jangan langsung menghubungkan motor atau beban besar ke output PLC jika arus bebannya melebihi kemampuan output.

Gunakan driver/interface yang sesuai.

6. Perhatikan noise dan wiring

PWM berkecepatan tinggi dapat menghasilkan switching yang cukup cepat sehingga aspek wiring, grounding, shielding, dan EMC perlu diperhatikan.

PWM dalam Sistem Otomasi Industri

Secara sederhana, posisi PWM dalam sistem kontrol dapat digambarkan:

          PLC
           │
           │
    ┌──────▼──────┐
    │ PWM Output  │
    └──────┬──────┘
           │
           │ Pulse
           ▼
    ┌──────────────┐
    │ Driver /     │
    │ Interface    │
    └──────┬───────┘
           │
           ▼
      ┌─────────┐
      │  Motor  │
      │ Solenoid│
      │ Heater  │
      │  Device │
      └─────────┘

Dalam implementasi nyata, PLC biasanya tidak berdiri sendiri. Pemilihan PWM harus mempertimbangkan PLC → output → driver → actuator → proses sebagai satu kesatuan sistem.

Kesimpulan

Pulse Width Modulation (PWM) pada PLC adalah metode menghasilkan pulsa digital dengan mengatur frequency dan duty cycle.

Konsep yang paling penting untuk dipahami adalah:

Frequency menentukan seberapa cepat pulsa berulang, sedangkan duty cycle menentukan berapa lama pulsa berada pada kondisi ON dalam satu periode.

PWM berbeda dengan analog output dan juga berbeda dengan Pulse Train Output (PTO). Pemilihan metode harus disesuaikan dengan perangkat dan tujuan kontrol.

Untuk aplikasi industri, hal yang perlu diperhatikan bukan hanya program PLC, tetapi juga kemampuan high-speed output, frequency maksimum, minimum pulse width, jenis output, arus beban, driver, wiring, dan karakteristik perangkat yang dikendalikan.

Scroll to Top