Proses Pembangkitan Listrik di PLTG: Cara Kerja Gas Turbine Power Plant

Proses Pembangkitan Listrik di PLTG

PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) merupakan salah satu jenis pembangkit listrik yang menggunakan energi dari pembakaran bahan bakar gas untuk menghasilkan energi mekanik pada turbin, kemudian mengubahnya menjadi energi listrik melalui generator.

Proses pembangkitan listrik di PLTG pada dasarnya mengikuti prinsip siklus Brayton, yaitu udara dikompresi, dicampur dengan bahan bakar dan dibakar, kemudian gas hasil pembakaran diekspansikan melalui turbin. Putaran turbin digunakan untuk menggerakkan generator sehingga menghasilkan listrik.

Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan sebagai:

Udara → Kompresor → Combustor → Turbin Gas → Generator → Transformator → Jaringan Listrik

Apa Itu PLTG?

PLTG adalah pembangkit listrik yang menggunakan gas turbine sebagai mesin utama untuk menghasilkan energi mekanik. Bahan bakar yang digunakan umumnya berupa gas alam.

Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga uap yang terlebih dahulu menghasilkan uap untuk memutar turbin, PLTG menggunakan gas hasil pembakaran secara langsung untuk memutar turbin.

Gas turbine pada dasarnya memiliki tiga bagian utama, yaitu compressor, combustion system, dan turbine. Turbin menghasilkan tenaga mekanik untuk menggerakkan compressor sekaligus generator listrik.

Tahapan Proses Pembangkitan Listrik di PLTG

1. Udara Masuk melalui Air Intake

Proses dimulai ketika udara atmosfer masuk melalui air intake system.

Udara biasanya melewati beberapa peralatan seperti:

  • Air filter
  • Inlet duct
  • Silencer
  • Inlet Guide Vane (IGV)

Filter berfungsi mengurangi masuknya debu dan partikel yang dapat mengganggu kinerja compressor.

Udara yang telah melewati sistem intake kemudian diarahkan menuju compressor.

2. Udara Dikompresi oleh Compressor

Udara dari atmosfer kemudian masuk ke compressor.

Compressor berfungsi meningkatkan tekanan udara sebelum udara tersebut masuk ke ruang pembakaran. Pada gas turbine industri, compressor umumnya terdiri dari banyak tingkat sudu yang berputar dan sudu diam.

Selama proses kompresi:

Tekanan udara meningkat → Temperatur udara meningkat → Udara siap digunakan untuk pembakaran

Compressor sendiri mendapatkan tenaga mekanik dari shaft turbine. Dengan demikian, sebagian energi yang dihasilkan turbine digunakan untuk mempertahankan proses kompresi udara.

3. Gas Alam Masuk ke Combustion Chamber

Udara bertekanan tinggi kemudian masuk ke combustion chamber atau ruang bakar.

Pada bagian ini, gas alam disuplai melalui fuel gas system dan dicampurkan dengan udara bertekanan.

Campuran tersebut kemudian dibakar secara kontinu.

Reaksi pembakaran menghasilkan:

  • Temperatur tinggi
  • Tekanan dan energi aliran yang tinggi
  • Gas hasil pembakaran dengan energi yang besar

Gas panas tersebut selanjutnya diarahkan menuju turbine.

4. Gas Panas Memutar Turbin

Gas hasil pembakaran yang memiliki energi tinggi masuk ke bagian gas turbine.

Gas panas mengalami ekspansi ketika melewati sudu-sudu turbine. Energi gas tersebut diubah menjadi energi mekanik berupa putaran shaft.

Secara sederhana:

Energi panas → Energi aliran gas → Energi mekanik

Shaft turbine terhubung dengan compressor dan generator. Karena itu, putaran turbine digunakan untuk dua fungsi utama:

  1. Menggerakkan compressor.
  2. Menggerakkan generator listrik.

Prinsip ini merupakan inti dari proses kerja gas turbine.

5. Generator Menghasilkan Energi Listrik

Putaran shaft turbine diteruskan ke generator.

Generator mengubah energi mekanik menjadi energi listrik melalui prinsip induksi elektromagnetik.

Alurnya adalah:

Gas turbine → Shaft → Generator → Energi listrik

Listrik yang dihasilkan generator kemudian masuk ke sistem kelistrikan pembangkit.

Parameter seperti tegangan, arus, frekuensi, daya aktif, dan daya reaktif dipantau untuk memastikan generator beroperasi sesuai kondisi sistem tenaga listrik.

6. Tegangan Generator Dinaikkan oleh Transformator

Tegangan keluaran generator biasanya perlu dinaikkan sebelum listrik disalurkan ke jaringan transmisi.

Listrik dari generator kemudian melewati Generator Transformer (GT).

Contoh alurnya:

Generator → Generator Transformer → Switchyard → Jaringan Transmisi

Transformator menaikkan tegangan sehingga listrik dapat disalurkan melalui jaringan transmisi dengan karakteristik yang sesuai.

7. Gas Buang Keluar melalui Exhaust System

Setelah melewati turbine, gas masih memiliki temperatur yang cukup tinggi.

Pada PLTG simple cycle, gas buang dialirkan melalui exhaust system menuju stack dan kemudian dilepaskan ke atmosfer sesuai persyaratan operasi dan lingkungan.

Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat energi panas pada gas buang yang belum dimanfaatkan sepenuhnya.

Energi tersebut dapat dimanfaatkan apabila PLTG dikembangkan menjadi sistem combined cycle atau PLTGU.

Sistem Utama pada PLTG

Sebuah PLTG memiliki berbagai sistem pendukung agar proses pembangkitan dapat berlangsung secara aman dan stabil.

1. Air Intake System

Berfungsi menyediakan udara untuk compressor.

Peralatan yang dapat ditemukan antara lain:

  • Air filter
  • Inlet duct
  • Silencer
  • Inlet Guide Vane

2. Gas Fuel System

Berfungsi menyediakan dan mengatur bahan bakar menuju combustion system.

Sistem ini dapat mencakup:

  • Gas filter
  • Pressure regulating system
  • Fuel control valve
  • Fuel shut-off valve
  • Fuel nozzle

3. Gas Turbine System

Merupakan mesin utama yang terdiri dari:

Compressor → Combustor → Turbine

Ketiga bagian tersebut bekerja sebagai satu kesatuan dalam mengubah energi bahan bakar menjadi energi mekanik.

4. Generator System

Generator mengubah energi mekanik dari turbine menjadi energi listrik.

5. Lubrication System

Lubrication system menyediakan oli untuk bearing dan komponen rotating equipment.

Sistem ini sangat penting karena gas turbine beroperasi pada putaran tinggi sehingga pelumasan yang baik diperlukan untuk mengurangi gesekan dan menjaga temperatur bearing.

6. Cooling System

Cooling system digunakan untuk menjaga temperatur komponen tertentu agar tetap berada dalam batas desain.

Pada gas turbine modern, udara dari compressor juga dapat digunakan untuk mendinginkan bagian tertentu dari turbine.

7. Exhaust System

Exhaust system mengalirkan gas buang dari turbine menuju exhaust stack atau menuju HRSG pada konfigurasi combined cycle.

8. Electrical System

Sistem kelistrikan PLTG dapat mencakup:

  • Generator
  • Generator transformer
  • Switchgear
  • Protection system
  • Switchyard
  • Auxiliary power system

9. Control and Instrumentation System

Sistem kontrol digunakan untuk mengendalikan dan memonitor operasi PLTG.

Parameter yang umum dipantau antara lain:

  • Turbine speed
  • Exhaust temperature
  • Compressor pressure
  • Compressor temperature
  • Fuel gas pressure
  • Fuel flow
  • Generator voltage
  • Generator current
  • Frequency
  • Vibration
  • Lubrication oil pressure

Sistem Kontrol pada PLTG

Dari sisi otomasi industri, PLTG merupakan sistem yang sangat menarik karena melibatkan berbagai loop kontrol dan sistem proteksi.

Salah satu fungsi utama sistem kontrol adalah mengatur fuel flow agar output turbine sesuai dengan kebutuhan.

Contohnya, ketika kebutuhan daya listrik meningkat, sistem kontrol dapat meningkatkan suplai bahan bakar dengan tetap mempertimbangkan batas temperatur, kecepatan turbine, kondisi compressor, emisi, dan batas operasi mesin.

Beberapa fungsi kontrol yang umum dijumpai antara lain:

Speed Control

Digunakan untuk mengontrol kecepatan turbine, terutama pada kondisi start-up dan sebelum generator tersinkronisasi dengan jaringan.

Load Control

Digunakan untuk mengatur output daya generator sesuai kebutuhan sistem.

Temperature Control

Digunakan untuk menjaga temperatur operasi turbine tetap dalam batas yang diizinkan.

Fuel Control

Mengatur jumlah bahan bakar yang masuk ke combustion system.

IGV Control

Inlet Guide Vane (IGV) digunakan untuk mengatur kondisi aliran udara yang masuk ke compressor sesuai kebutuhan operasi turbine.

Selain control system, PLTG juga dilengkapi berbagai fungsi protection dan trip. Contohnya proteksi terhadap overspeed, high vibration, kondisi temperatur yang tidak normal, flame failure, atau tekanan lubrication oil yang terlalu rendah.

Bagaimana PLTG Melakukan Start-Up?

Proses start-up PLTG dilakukan secara bertahap.

Secara sederhana, urutannya dapat digambarkan sebagai berikut:

Start Command

↓

Auxiliary System Aktif

↓

Lubrication System Aktif

↓

Starter Memutar Shaft

↓

Compressor Menghasilkan Udara

↓

Combustion Chamber Dipurge

↓

Ignition

↓

Fuel Masuk

↓

Flame Terbentuk

↓

Turbine Accelerates

↓

Mencapai Kecepatan Operasi

↓

Generator Synchronizing

↓

Circuit Breaker Close

↓

Generator Menerima Beban

↓

PLTG Menghasilkan Listrik

Urutan aktual dapat berbeda tergantung desain gas turbine, sistem kontrol, dan prosedur OEM.

Bagaimana PLTG Menghasilkan Daya yang Lebih Besar?

Ketika sistem membutuhkan daya listrik yang lebih besar, control system akan mengatur operasi gas turbine untuk meningkatkan output.

Secara sederhana:

Kebutuhan daya meningkat

↓

Fuel Flow meningkat

↓

Energi pembakaran meningkat

↓

Energi gas turbine meningkat

↓

Torque turbine meningkat

↓

Output generator meningkat

Namun, peningkatan fuel tidak dapat dilakukan tanpa batas. Sistem kontrol harus memperhatikan temperatur turbine, kondisi compressor, vibration, emissions, dan batas mekanis maupun termal peralatan.

PLTG Simple Cycle dan PLTGU Combined Cycle

Salah satu perbedaan penting antara PLTG dan PLTGU adalah pemanfaatan panas dari gas buang.

Pada PLTG simple cycle, gas buang setelah melewati turbine pada dasarnya dikeluarkan melalui exhaust system.

Sedangkan pada PLTGU atau combined cycle, panas gas buang dimanfaatkan melalui Heat Recovery Steam Generator (HRSG) untuk menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian digunakan untuk menggerakkan steam turbine dan menghasilkan tambahan daya listrik.

Alurnya menjadi:

Gas alam → Gas Turbine → Generator

dan:

Exhaust Gas → HRSG → Steam → Steam Turbine → Generator

Pemanfaatan panas buang inilah yang membuat combined cycle dapat memiliki efisiensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan simple-cycle gas turbine pada kondisi operasi yang sesuai.

Kelebihan PLTG

Beberapa kelebihan PLTG antara lain:

1. Start-Up Relatif Cepat

Gas turbine dapat digunakan untuk kebutuhan pembangkitan yang membutuhkan respons relatif cepat.

2. Konstruksi Lebih Sederhana

Dibandingkan pembangkit combined cycle, konfigurasi simple-cycle PLTG memiliki sistem yang lebih sederhana karena tidak memerlukan steam turbine dan HRSG.

3. Ukuran Relatif Kompak

Gas turbine memiliki power density yang tinggi sehingga dapat menghasilkan daya besar dari sistem yang relatif kompak.

4. Cocok untuk Sistem yang Membutuhkan Fleksibilitas

PLTG dapat digunakan sebagai salah satu pilihan untuk mendukung kebutuhan sistem tenaga yang membutuhkan fleksibilitas operasi.

Kekurangan PLTG

PLTG juga memiliki beberapa keterbatasan.

Salah satunya adalah panas yang masih terkandung dalam gas buang tidak dimanfaatkan secara maksimal pada konfigurasi simple cycle.

Karena itu, apabila kebutuhan utama adalah efisiensi termal yang tinggi, sistem combined cycle dapat menjadi pilihan. Pada combined cycle, panas gas buang dimanfaatkan untuk menghasilkan uap tambahan sehingga menghasilkan output listrik tambahan.

Selain itu, performa gas turbine dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan beban operasi. Efisiensi juga tidak selalu sama pada seluruh rentang beban.

Konversi Energi pada PLTG

Jika diringkas berdasarkan perubahan bentuk energi, proses PLTG adalah:

Energi kimia gas alam

↓

Energi panas hasil pembakaran

↓

Energi kinetik dan energi tekanan gas

↓

Energi mekanik putaran turbine

↓

Energi listrik generator

Konversi energi inilah yang menjadi dasar kerja pembangkit listrik tenaga gas.

Kesimpulan

PLTG merupakan pembangkit listrik yang menggunakan gas turbine untuk mengubah energi bahan bakar menjadi energi listrik.

Prosesnya dimulai dari udara yang masuk ke compressor. Udara tersebut dikompresi kemudian dicampur dengan gas alam dan dibakar di combustion chamber. Gas panas hasil pembakaran kemudian mengalir melalui turbine dan menghasilkan putaran mekanik.

Putaran turbine digunakan untuk menggerakkan compressor dan generator. Generator kemudian menghasilkan energi listrik yang diteruskan melalui transformator dan switchyard menuju jaringan listrik.

Secara sederhana:

Udara dikompresi → Gas dibakar → Gas panas memutar turbine → Turbine memutar generator → Generator menghasilkan listrik → Tegangan dinaikkan → Listrik disalurkan ke jaringan.

Memahami proses PLTG juga menjadi dasar penting untuk mempelajari sistem gas turbine control, instrumentation, electrical protection, vibration monitoring, combustion control, turbine diagnostics, dan power plant automation.

Scroll to Top