Training Needs Analysis (TNA): Pengertian, Tujuan, Tahapan, dan Contohnya

Training Needs Analysis (TNA) atau Analisis Kebutuhan Pelatihan merupakan salah satu tahapan penting dalam merancang program pelatihan yang efektif. TNA dilakukan untuk mengetahui kesenjangan antara kompetensi yang dibutuhkan dengan kompetensi yang dimiliki oleh individu, kelompok, maupun organisasi.

Dengan melakukan TNA, program pelatihan tidak hanya dibuat berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan kebutuhan kompetensi yang nyata.

Apa Itu Training Needs Analysis?

Training Needs Analysis adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan berdasarkan kesenjangan kompetensi atau competency gap.

Secara sederhana, konsep TNA dapat digambarkan sebagai:

Kompetensi yang Dibutuhkan − Kompetensi yang Dimiliki = Competency Gap

Sebagai contoh, seorang Automation Engineer membutuhkan kemampuan PLC Programming, HMI, Industrial Networking, SCADA, dan Troubleshooting.

Hasil assessment menunjukkan bahwa engineer tersebut sudah memiliki kemampuan PLC Programming dan HMI, tetapi masih memiliki kesenjangan pada Industrial Networking dan Troubleshooting.

Maka kebutuhan pelatihannya dapat diarahkan pada:

  • Industrial Networking
  • SCADA
  • Troubleshooting

Dengan demikian, pelatihan menjadi lebih tepat sasaran.

Mengapa Training Needs Analysis Penting?

Tanpa TNA, organisasi berisiko memberikan pelatihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan peserta.

Contohnya, seorang teknisi yang sudah menguasai HMI diberikan pelatihan HMI Basic, sementara kemampuan troubleshooting PLC yang sangat dibutuhkan justru belum dikuasai.

TNA membantu organisasi menghindari kondisi tersebut.

Beberapa manfaat TNA antara lain:

1. Mengidentifikasi Competency Gap

TNA membantu mengetahui perbedaan antara kompetensi aktual dengan kompetensi yang dipersyaratkan.

2. Menentukan Program Pelatihan

Hasil TNA dapat digunakan untuk menentukan materi, level, durasi, dan metode pelatihan.

3. Menentukan Peserta yang Tepat

Tidak semua karyawan membutuhkan pelatihan yang sama. TNA membantu menentukan siapa yang benar-benar membutuhkan pelatihan tertentu.

4. Menentukan Prioritas

Kesenjangan kompetensi dapat diprioritaskan berdasarkan tingkat risiko, dampak terhadap pekerjaan, urgensi, dan kebutuhan organisasi.

5. Meningkatkan Efektivitas Pelatihan

Pelatihan yang berdasarkan kebutuhan nyata memiliki peluang lebih besar untuk memberikan dampak terhadap kinerja.

Tiga Level Training Needs Analysis

TNA dapat dilakukan pada beberapa tingkatan. Tiga level yang umum digunakan adalah Organizational Analysis, Task/Job Analysis, dan Individual Analysis.

1. Organizational Analysis

Organizational Analysis dilakukan untuk mengetahui kebutuhan kompetensi pada tingkat organisasi.

Pertanyaan utamanya:

“Kompetensi apa yang dibutuhkan organisasi untuk mencapai tujuan bisnisnya?”

Misalnya perusahaan ingin menerapkan konsep Industry 4.0.

Maka perusahaan mungkin membutuhkan kompetensi seperti:

  • Industrial IoT
  • PLC
  • SCADA
  • Industrial Networking
  • Data Analytics
  • Cybersecurity
  • OPC UA
  • MQTT

Hasil analisis organisasi dapat digunakan sebagai dasar penyusunan training plan.

2. Task / Job Analysis

Task atau Job Analysis berfokus pada pekerjaan yang harus dilakukan oleh seseorang pada posisi tertentu.

Pertanyaan utamanya:

“Kompetensi apa yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan tersebut?”

Sebagai contoh, seorang PLC Automation Engineer mungkin memiliki tugas:

  • Membuat program PLC
  • Membuat konfigurasi HMI
  • Melakukan commissioning
  • Melakukan troubleshooting
  • Mengintegrasikan perangkat melalui jaringan industri
  • Membaca electrical drawing

Dari tugas tersebut kemudian ditentukan kompetensi yang diperlukan.

TaskKompetensi
Membuat program PLCPLC Programming
Membuat HMIHMI Programming
CommissioningCommissioning
TroubleshootingTroubleshooting
Integrasi PLCIndustrial Communication
Membaca drawingElectrical Drawing

3. Individual Analysis

Individual Analysis digunakan untuk mengetahui kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing individu.

Pertanyaan utamanya:

“Kompetensi apa yang sudah dimiliki dan kompetensi apa yang masih perlu ditingkatkan?”

Contohnya:

KompetensiRequiredActualGap
PLC Programming431
HMI330
Modbus TCP312
Troubleshooting422

Dari hasil tersebut terlihat bahwa kebutuhan pelatihan terbesar terdapat pada Modbus TCP dan Troubleshooting.

Tahapan Training Needs Analysis

Pelaksanaan TNA dapat dilakukan melalui beberapa tahapan berikut.

1. Identifikasi Tujuan Organisasi

Pertama, tentukan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi.

Contohnya:

Meningkatkan kemampuan tim maintenance dalam melakukan troubleshooting sistem otomasi.

2. Identifikasi Pekerjaan

Tentukan jabatan atau pekerjaan yang berkaitan dengan tujuan tersebut.

Contohnya:

Maintenance Technician atau Automation Engineer.

3. Identifikasi Kompetensi yang Dibutuhkan

Tentukan kompetensi yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaan tersebut.

Misalnya:

  • PLC Programming
  • PLC Troubleshooting
  • HMI
  • VSD
  • Sensor
  • Industrial Networking
  • Electrical Troubleshooting

4. Mengukur Kompetensi Aktual

Kompetensi aktual dapat diukur menggunakan berbagai metode, seperti:

  • Interview
  • Questionnaire
  • Observation
  • Knowledge Test
  • Practical Test
  • Competency Assessment
  • Performance Review

Hasil pengukuran digunakan untuk mengetahui kondisi kompetensi peserta saat ini.

5. Mengidentifikasi Competency Gap

Bandingkan kompetensi yang dibutuhkan dengan kompetensi aktual.

Contoh:

Required Level = 4

Actual Level = 2

Maka:

Competency Gap = 2

Semakin besar gap, semakin besar kebutuhan untuk melakukan pengembangan kompetensi.

6. Menentukan Prioritas Pelatihan

Tidak semua competency gap harus langsung ditangani.

Prioritas dapat ditentukan berdasarkan:

  • Dampak terhadap pekerjaan
  • Risiko keselamatan
  • Urgensi
  • Frekuensi pekerjaan
  • Tingkat kesulitan
  • Dampak terhadap produktivitas
  • Kebutuhan organisasi

Contohnya:

KompetensiGapPrioritas
Industrial Networking2High
Troubleshooting2High
PLC Programming1Medium
PID Control1Medium
HMI0Low

7. Menentukan Program Pelatihan

Setelah kebutuhan ditentukan, organisasi dapat menyusun program pelatihan.

Program dapat mencakup:

  • Nama pelatihan
  • Tujuan pelatihan
  • Kompetensi yang ditargetkan
  • Materi
  • Peserta
  • Durasi
  • Metode pembelajaran
  • Trainer/instruktur
  • Media pembelajaran
  • Assessment

Sebagai contoh:

Training: Industrial Networking

Materi:

  • Basic Industrial Networking
  • Ethernet
  • TCP/IP
  • Modbus TCP
  • Network Troubleshooting
  • Industrial Network Architecture

8. Melakukan Evaluasi

Tahap terakhir adalah mengevaluasi apakah pelatihan berhasil meningkatkan kompetensi peserta.

Contohnya:

Sebelum Training

PLC Troubleshooting = Level 2

Setelah Training

PLC Troubleshooting = Level 4

Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan kompetensi.

Namun evaluasi sebaiknya tidak hanya melihat hasil tes, tetapi juga melihat penerapan kompetensi tersebut di tempat kerja.

Metode yang Dapat Digunakan dalam TNA

Beberapa metode pengumpulan data yang dapat digunakan antara lain:

Interview

Melakukan wawancara dengan peserta, supervisor, manager, atau subject matter expert.

Questionnaire

Menggunakan kuesioner untuk mendapatkan informasi mengenai kebutuhan dan persepsi peserta.

Observation

Mengamati secara langsung bagaimana seseorang melakukan pekerjaannya.

Knowledge Test

Digunakan untuk mengukur pengetahuan teoritis.

Practical Test

Digunakan untuk mengetahui kemampuan peserta dalam melakukan pekerjaan secara langsung.

Competency Assessment

Mengukur kompetensi berdasarkan standar atau kriteria yang telah ditentukan.

Performance Data

Data kinerja juga dapat digunakan untuk menemukan kebutuhan pelatihan, misalnya:

  • Downtime
  • Breakdown
  • Reject
  • Error
  • Productivity
  • Maintenance record
  • Quality performance

Contoh TNA untuk Automation Engineer

Misalnya sebuah perusahaan memiliki beberapa Automation Engineer.

Hasil assessment menunjukkan:

KompetensiRequiredAverage ActualGap
PLC Programming431
HMI330
SCADA422
Industrial Networking422
PID Control321
Troubleshooting422

Berdasarkan hasil tersebut, prioritas training dapat disusun sebagai berikut:

Prioritas Tinggi

  • Industrial Networking
  • SCADA
  • Troubleshooting

Prioritas Menengah

  • PLC Programming
  • PID Control

Tidak Menjadi Prioritas

  • HMI

HMI tidak menjadi prioritas karena kompetensi aktual sudah memenuhi level yang dipersyaratkan.

Training Needs Analysis dalam LPK

TNA juga memiliki peranan penting bagi Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).

Sebelum menyusun program pelatihan, LPK dapat melakukan analisis terhadap calon peserta untuk mengetahui:

  • Latar belakang pendidikan
  • Pengalaman kerja
  • Jabatan
  • Pengalaman teknis
  • Kompetensi awal
  • Kebutuhan kompetensi
  • Target pekerjaan
  • Target kompetensi

Sebagai contoh, sebuah LPK akan membuka:

Program Pelatihan Otomasi Industri

Hasil TNA dapat menunjukkan bahwa peserta memiliki tingkat kemampuan yang berbeda.

Peserta pemula dapat diarahkan ke:

PLC Basic

Peserta yang sudah memiliki pengalaman dapat diarahkan ke:

PLC Intermediate

Sedangkan peserta yang sudah berpengalaman dapat diarahkan ke:

PLC Advanced & Troubleshooting

Dengan pendekatan tersebut, program pelatihan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan peserta.

Hubungan TNA dengan Pelatihan Berbasis Kompetensi

TNA memiliki hubungan yang erat dengan Competency-Based Training (CBT).

Alurnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Organizational Goal

Job / Task Analysis

Required Competency

Competency Assessment

Competency Gap

Training Needs Analysis

Training Program

Training Implementation

Assessment

Evaluation

Dengan alur tersebut, pelatihan tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga pada pencapaian kompetensi yang dibutuhkan.

Kesimpulan

Training Needs Analysis (TNA) merupakan proses penting untuk memastikan bahwa program pelatihan benar-benar sesuai dengan kebutuhan organisasi dan peserta.

TNA membantu menjawab beberapa pertanyaan penting:

  • Kompetensi apa yang dibutuhkan?
  • Kompetensi apa yang sudah dimiliki?
  • Di mana terdapat competency gap?
  • Siapa yang membutuhkan pelatihan?
  • Pelatihan apa yang harus diberikan?
  • Apa yang harus menjadi prioritas?
  • Apakah pelatihan berhasil meningkatkan kompetensi?

Dengan demikian, prinsip sederhana TNA dapat dirangkum menjadi:

Identify → Assess → Find Gap → Prioritize → Train → Evaluate

Pelatihan yang baik bukan hanya tentang memberikan materi yang menarik, tetapi tentang memberikan pelatihan yang tepat kepada orang yang tepat berdasarkan kebutuhan kompetensi yang nyata.

Bagi perusahaan maupun LPK, TNA dapat menjadi fondasi penting dalam membangun program pelatihan yang tepat sasaran, berbasis kompetensi, dan relevan dengan kebutuhan industri.

Scroll to Top